Thank You, Mr Panda

Kali ini aku mau sharing tentang buku cerita berjudul Thank You Mr Panda by Steve Antony

Buku ini bercerita tentang Mr. Panda yang mau ngasih hadiah buat temen-temennya: tikus, gurita, gajah, kambing gunung, dan lemur. 

Kira-kira temen-temennya Mr. Panda ini bakalan suka nggak ya sama hadiahnya? Ternyata hadiah yang Mr. Panda kasih buat temen-temennya ini nggak ada yang pas. Ada yang ukurannya terlalu besar, ada yang jumlahnya nggak sesuai, dan ada yang terlalu berat. Jadinya temen-temen Mr. Panda malah mengeluh atas hadiah yang mereka dapetin. Padahal kan yang penting niatnya ya..

Bahkan ada yang cuek juga waktu Mr. Panda ngasih hadiah.

Padahal kan kalo dikasih hadiah harusnya kita berterima kasih, ya.. Nah kalo lemur ini pinter.. Dia nggak lupa buat berterima kasih waktu dikasih hadiah sama Mr. Panda.

Ya.. walaupun hadiah yang kita terima nggak sesuai ekspektasi, atau ukurannya nggak pas, apapun itu, seharusnya kita menunjukkan rasa senang dan berterima kasih sama yang ngasih hadiah. Karena hadiah itu kan salah satu bentuk perhatiannya seseorang sama kita.. Iya nggak?

Ini jadi reminder juga nih buat Bibu, untuk selalu mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain. Semoga Arfa dapetin juga ya moral of the story dari buku ini..

Yang aku suka dari buku ini adalah ilustrasinya yang oke, warnanya yang terang, ukuran bukunya yang besar, penggunaan kata-katanya yang singkat padat jelas, dan pastinya di balik ceritanya yang lucu, dia tetep punya moral of the story yang bagus. Buku ini juga mengasah critical thinking dan social skill kita sih menurutku.. Recommended deh aku rasa..
Sekian dulu ya sharing buku hari ini. Hope you’ll find it useful!

Advertisements

3 Years Down, Forever To Go

Hubby was trying to be romantic by giving me a bouquet of flowers on our third wedding anniversary today.

Wait. It’s not a bouquet of flowers. Because it came within a vase. 😂

This is the third times I got a bouquet of flowers from him so far. And I have to say that he always make me wanna laugh instead of smile everytime I received those flowers. 

First in 2011, he gave me a bouquet of flowers with tuberoses (bunga sedap malam) inside. 😂 Oh my God just because I said that I like tuberose, it doesn’t mean that I want it to came in a bouquet of flowers.

Second still in 2011, on my graduation day, he gave me a bouquet of blue roses. 😮 I thought I prefer the white one.

And now, on the third one, in 2017, he gave me white lilies which came within a vase. 😁 Oh my God, PSI is so weird!

My Dear PSI, you don’t know how happy I am to have a not-so-romantic husband who always be silly when it comes to choosing flowers. 

Next time you should let me know when you’re going to give me flowers so I could choose it on my own. But sure, thank you! I like white lilies. Your wife likes white lilies. 🙈

Review Buku Early Learning untuk Anak-anak

Di luar sana, buku early learning untuk anak-anak tersedia dalam berbagai macam judul dengan konsepnya masing-masing. Mana yang terbaik? Aku rasa para ibu lebih tahu mana yang terbaik dan cocok untuk anaknya. Disini aku mau ngasih gambaran mengenai 3 judul buku early learning yang aku punya. Check it out ya Mommies.. 



My First Zoo

Buku dari Penerbit Dorling Kindersley (DK) ini bentuknya board book, dengan easy grip picture tabs di bagian atas dan sisi kanannya. 

Hal yang aku suka dari buku ini adalah karena: 

  • Gambarnya real pictures, atau photographic pictures mungkin ya istilahnya.. Jadi anak-anak bisa tahu wujud asli hewan-hewan yang ada di dalam buku ini. 

  • Background bukunya yang berwarna putih membuat gambarnya terlihat lebih jelas dan kontras. 
  • Picture tabs di bagian atas dan sisi kanan memudahkan kita untuk melihat hewan-hewan berdasarkan kategorinya masing-masing.

  • Di dalamnya ada banyak sekali macam-macam hewan, mulai dari kelompok primata, predator, hewan wilayah Afrika, hewan wilayah tropis, hewan wilayah dingin, aneka burung, serangga, reptil, hewan laut, hewan wilayah Australia, hewan nokturnal, hingga hewan peliharaan. 
  • Buku ini cukup interaktif, di dalamnya terdapat beberapa pertanyaan dan ajakan agar para pembaca bisa terlibat lebih aktif. 

Kalau hal yang aku kurang suka, hmm.. Sebenernya bukan kurang suka juga sih.. Jadi kalau aku perhatikan, anakku (saat ini berusia 21 bulan) kurang bisa fokus mengenal nama-nama hewan ketika dalam satu halaman terdapat banyak sekali gambar. 

Oh ya, buku ini cocok untuk anak usia 0-5 tahun ya. Selain judul Zoo, serial buku ini juga tersedia dalam berbagai judul lainnya.

First 100 Words

Untuk yang suka beli buku di event Big Bad Wolf (BBW), pasti hafal banget sama buku terbitan St. Martin’s Press ini. Maklum, buku ini memang sering muncul di BBW dan jadi incaran sebagian besar newly moms

Buku ini berbentuk board book dengan cover-nya yang softly padded sehingga empuk dan enak dipegang. 

Hal yang aku suka dari buku ini diantaranya:

  • Gambarnya photographic pictures, sehingga anak-anak bisa mengetahui wujud asli benda-benda yang ditampilkan dalam buku. 

  • Buku ini berisi hal-hal yang ada di sekeliling kita dan hal-hal yang sifatnya umum dalam kehidupan sehari-hari. Kategori yang ditampilkan di buku ini diantaranya warna, kendaraan, perlengkapan mandi, tidur, dan makan, buah dan sayur, macam-macam ekspresi, benda di taman, pakaian, mainan, binatang peliharaan, dan binatang ternak. 

  • Ukurannya yang kecil dan cover-nya yang empuk memudahkan anak-anak untuk menggenggam buku ini. 

Hal yang aku kurang suka dari buku ini, lagi-lagi karena dalam satu halaman terdapat banyak sekali gambar sehingga membuat anakku kurang bisa fokus dalam mengenal nama-nama benda. Dan background gambar yang warna-warni juga sedikit banyak membuat anakku terdistraksi sehingga kurang fokus. 

Buku ini cocok untuk anak berusia 0-5 tahun dengan rating bintang 4,3/5 versi Goodreads. Selain judul Words, serial buku ini juga tersedia dalam berbagai judul lainnya. 

My Very First Book of Animal Sounds

Berhubung aku suka sama karya-karyanya Eric Carle, maka aku mewanti-wanti diri sendiri untuk nggak berat sebelah saat nulis review ini. 

Buku terbitan Philomel Books ini berbentuk board book dimana setiap halaman di bagian dalamnya terpotong menjadi dua bagian. Bagian kanan atas berisi gambar-gambar hewan dan di sebelah kirinya berisi nama hewan tersebut. Sedangkan bagian kanan bawah bertuliskan suara hewan untuk dicocokkan dengan bagian atasnya. Konsep dari buku ini adalah mencocokkan gambar hewan dengan suaranya. 

Hal yang aku suka dari buku ini diantaranya:

  • Dalam satu halaman hanya terdapat satu gambar hewan. Yang aku rasakan, hal ini membuat anakku benar-benar fokus dalam mengenal nama hewan. 

  • Background nya yang berwarna putih membuat gambar terlihat lebih jelas dan kontras sehingga membuat anak lebih fokus dalam memperhatikan gambar. 
  • Buku ini bersifat interaktif karena memang didesain untuk membuat anak terlibat aktif dalam memasangkan gambar hewan dan suaranya. Fitur ini belum kami rasakan manfaatnya, mengingat usia anakku yang baru 21 bulan dan belum bisa membaca.

Hal yang aku kurang suka dari buku ini, diantaranya adalah karena gambar-gambar di buku ini berupa ilustrasi sehingga dikhawatirkan anak akan kesulitan untuk mengetahui wujud asli dari benda yang dimaksud. Jumlah gambar di dalam buku ini juga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah gambar dalam dua buku yang sudah dibahas sebelumnya. 

Buku ini cocok untuk anak usia 0-5 tahun dengan rating bintang 3,8/5 versi Goodreads. Selain judul Animal Sounds, serial buku ini juga tersedia dalam berbagai judul lainnya. 

Dari ketiga buku itu, kalau ditanya mana yang terbaik, menurutku masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Ibu pasti tahu yang terbaik dan yang paling cocok untuk anaknya masing-masing. 

Tapi kalau ditanya mana favoritku, saat ini buku My Very First Book of Animal Sounds masih jadi favoritku, mengingat buku ini sudah menemani aku dan anakku cukup lama, dan juga merupakan salah satu buku yang membuat kosakata anakku bertambah sangat pesat. 

Oke Mommies, sekian review dari aku kali ini. Hope you’ll find it useful! 

Sepenggal Kenangan di Cipinang

Beberapa hari yang lalu, sepulang dari acara halal bi halal kantor suami yang diadain di daerah Jakarta Timur, kita ngelewatin daerah Cipinang. 

Setiap lewatin daerah ini, entah kenapa aku suka kebawa ke kenangan saat masih tinggal disana. Iya, dulu waktu baru nikah, aku dan PSI sempet ngontrak selama satu tahun sebelum akhirnya menempati rumah kami yang sekarang.

Nggak banyak momen yang kita abadikan dalam bentuk foto selama tinggal di Cipinang Lontar dulu. Bahkan jarang banget kayaknya. Karena aku pikir kontrakan ini cuma tempat tinggal sementara aja. Meskipun begitu, kenangan selama tinggal disana bener-bener melekat di ingatan aku. Yang manis, maupun yang pahit. Yang manis pasti selalu diingat karena menyenangkan. Yang pahit apalagi, karena bikin aku belajar, tambah pengalaman, dan tambah setrooong.. 💪 Hahaha.. 

Buat aku pribadi, pengalaman tinggal di Cipinang adalah sepenggal pengalaman yang sangat berharga. Di sana, saat itu, aku dan suami belajar untuk hidup sederhana untuk bisa meraih cita-cita kita: punya rumah yang nyaman. Itu yang bikin kita menghargai setiap keping uang yang kita punya. 

Jalan kaki dari kontrakan menuju jalan raya buat nyegat bajaj atau angkot. Naik angkot atau bajaj dari Cipinang ke pool travel Cipaganti di Rawamangun dan sebaliknya. Makan tempe mendoan abang-abang deket kontrakan. Setiap momen itu terasa jelas banget di ingatan sampe sekarang pun. 

Untungnya saat itu aplikasi Go-Jek belum sepopuler saat ini. Dan belum ada fitur Go-Food juga, sehingga ujian kesabaran dan kesederhanaan bisa lebih mudah kita lalui. Alhamdulillah..

Toy Review: Sound Puzzle

Kali ini aku mau coba review mainan anak berupa puzzle. Udah lama banget aku tertarik sama mainan anak dari brand Melissa & Doug dan baru kali ini nemu toko yang jualnya. 

Intro dulu ya agak panjang.. 🙊 Berawal dari kekecewaan yang berulang-ulang setiap kali beli wooden toy, entah itu kualitas kayunya yang nggak bagus, finishing nya yang kurang mulus dan rapi, pengecatannya yang nggak rapi, sampe pada ketahanannya yang kurang optimal, alias nggak tahan banting. 

Akhirnya aku cari-cari brand wooden toy di Pinterest dan nemu Melissa & Doug. Langsung liat-liat website nya dan makin tertarik! Maunya sih beli langsung dari website nya. Tapi galau: kalo mau free shipping, pasti bakalan kena pajak bea cukai. Kalo mau menghindari pajak bea cukai, belinya harus sedikit dan kena shipping fee. Antara rugi dan rugi 😂. 

Oke, jadilah aku cari-cari yang jual brand ini. Bandingin harganya dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Sampe akhirnya nemu yang jual dengan harga paling reasonable. Karena sering kecewa dengan wooden toy yang dulu-dulu pernah dibeli, jadinya untuk trial pertama kali, aku beli satu mainan dulu dari Melissa & Doug ini. Ini dia:

Aku beli Sound Puzzle yang Vehicles, berhubung saat itu anakku lagi suka sama segala macam kendaraan. Itu yang di foto udah nggak mulus 100% karena udah sering dimainin dan dibanting-banting anakku, ya.. 

Menurut aku pribadi, kualitas kayunya cukup bagus meskipun bukan solid wood. Finishing nya rapi dan aman, nggak ada sharp edges. Pengecatannya rapi karena bukan pengecatan manual. Ketahanannya juga lumayan tahan banting, meskipun sering dibanting-banting anakku tapi masih tetep berfungsi dengan baik dan nggak patah. 

Sound puzzle ini membutuhkan 2 baterai ukuran AAA untuk bisa mengeluarkan bunyi. Supaya kita bisa mendengarkan bunyi kendaraannya, kita harus menempatkan potongan puzzle ini ke papan puzzle nya. Di papan puzzle nya juga ada gambar yang sama dengan gambar di potongan puzzle, sehingga memudahkan anak-anak untuk memasangkan potongan puzzle ke tempat yang benar. Suara yang keluar dari sound puzzle ini adalah suara asli kendaraan-kendaraan tersebut. Jadi bisa dapet pengalaman audio juga ya.. 

Minusnya dari mainan ini adalah: walaupun potongan puzzle nya kita pasangin di tempat yang salah, bunyi kendaraannya tetep keluar.. 😅 Hahaha.. 

Selain yang vehicles, sound puzzle ini juga tersedia dalam varian shapes, train, farm animal, zoo animals, pets, fire truck, dan musical instruments

Age recommendation untuk mainan ini adalah 2+ alias untuk anak 2 tahun ke atas. Tapi aku beliin mainan ini untuk anakku waktu dia umur 1 tahun lebih dikit. 😓 Kalo kamu mau tau lebih banyak tentang brand Melissa & Doug, kamu bisa cek websitenya di http://www.melissaanddoug.com ya.. Semoga blog post ini bermanfaat buat kamuuu.. 😊

Cerita Mudik Awawa

Lebaran tahun ini, giliran kita berlebaran di Cirebon, alias di rumah orang tuanya PSI. Tiket kereta api pulang pergi udah dibeli jauh-jauh hari. Terus tiba-tiba orang tua PSI bilang bahwa kita juga akan ke Semarang, which is rumah mbahnya PSI dari pihak Bapak. 

Yang langsung lewat di pikiran aku adalah: apa kabar nasibnya Arfa selama di perjalanan? Nanti makannya gimana? Nenennya gimana? Tidurnya gimana? Io (pup) nya gimana? Secaraaa tempat ternyaman Arfa adalah rumah sendiri. Makan harus sambil jalan2 kesana kemari, makanannya harus anget, dan sukanya makanan berkuah. Nenennya harus sambil tiduran di kasur. Tidurnya harus di tempat adem. Kalau bersihin io udah nggak bisa lagi pake tissue basah karena nggak bisa diem banget. 

Aku pikir, bahaya banget ini.. Terakhir kali perjalanan 3 jam naik kereta api Bekasi-Bandung-Bekasi aja Arfa ngamuk-ngamuk pas mau tidur. Apa kabarnya kalo harus menempuh perjalanan Cirebon-Semarang-Cirebon naik mobil, di musim mudik Lebaran pula yang notabene pasti macet. 

Honestly aku udah ngedumel aja sama suami. Tau gini kan nggak usah beli tiket kereta api ke Cirebon ya, sekalian aja beli tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Semarang. Satu tempat aja yang dituju, kan kasian kalo anak kecil harus ngikutin perjalanan jauh dan dengan jadwal kegiatan yang padat. Aku sih nggak tega. 

Tapi aku bisa apa coba? Cuma bisa pasrah, nggak bisa bilang enggak mau. Tapi tentunya aku menetapkan syarat dan ketentuan sama suami:

  1. Kalo Arfa rewel selama perjalanan kereta Jakarta-Cirebon dan tidur di Cirebon nya rewel, kita nggak ikut pergi ke Semarang. 
  2. Kalo tetep dipaksa pergi ke Semarang dan selama perjalanan Cirebon-Semarang Arfa nya rewel, kita langsung pulang ke Jakarta naik pesawat. 

And guess what? Berkat doa dan kesukaan baru Arfa terhadap mobil, alhamdulillah perjalanan mudik kemarin berjalan lancar. Bukan lancar tanpa macet, tapi Arfa nya anteng dan nggak rewel. Arfa excited banget liat kendaraan-kendaraan selama di perjalanan. Tiap liat mobil, motor, truk, bis, bahkan kereta, Arfa bakalan teriak MOMIII! Momi itu maksudnya mobil.. 

Alhamdulillah, Awawa sehat-sehat dan ceria selama perjalanan mudik sampai balik lagi ke rumah di Bekasi. Yang aku khawatirkan juga nggak kejadian kok.. Rewel-rewel sih ada, terutama kalo kepanasan jadi suka ngamuk-ngamuk terus tidurnya pas di Cirebon. Di Semarang malah anteng banget karena dingin dan sejuk..

Bunda kadang suka lupa bahwa meskipun Arfa masih kecil, masih anak bayi, tapi Arfa juga manusia yang kuat, yang bisa beradaptasi.. Great job, Arfa sayang.. Bunda bangga sekali sama Mas Arfaaa! 

Tahun ini mudiknya emang lebih cape ya Fa, karena perjalanannya lebih jauh dan jadwal kegiatannya padat banget. Tapi Bunda seneng karena selain ketemu sama keluarga besar Ayah di Cirebon, kita bisa ketemu juga sama mbah uyutnya Arfa dan keluarga besarnya Ayah di Semarang yang sebelumnya cuma Bunda liat sekilas aja pas acara nikahan Ayah dan Bunda.. Semoga kegiatan mudik kita bisa mempererat tali silaturahmi antarkeluarga ya.. Aamiin.. 

A Thing About Mr. PSI

Sejak SMP, walaupun belum kepikiran untuk pacaran apalagi nikah, tapi aku udah menetapkan kriteria calon suami idaman. Apa-apaan coba.. 😂 Dan salah satu kriteria calon suami idaman aku adalah: KAYA! 

Don’t get it wrong! Bukannya aku matre, tapi aku realistis. Hidup kan butuh uang.. Emangnya anak istri mau dikasih makan pasir.. 😝 Jiah anak SMP udah bisa ngomong kaya gitu diajarin siapa yaaa? Kebanyakan nonton FTV sama ngemil micin kayaknya.. 

Setelah usia bertambah, kriteria ‘kaya’ masih selalu ada dalam daftar kriteria calon suami idaman. Tapi ‘kaya’ disini udah diikuti dengan definisi yang aku mau, yaitu punya pekerjaan, punya penghasilan sendiri, dan bisa berusaha buat cari uang yang halal tanpa minta ke orang tua. Kurang lebih begitu lah ya.. Pendek kata, mandiri secara finansial mungkin. 

Udah pernah aku ceritain sebelumnya bahwa aku dan PSI adalah teman sekelas waktu SMA. Tapi kita jarang ngobrol saat itu. Terus kita masuk ke perguruan tinggi yang sama tapi beda jurusan dan nggak pernah komunikasi juga saat itu. 

Sampai akhirnya PSI melakukan pendekatan yang makin intens waktu aku ngerjain tugas akhir. Awalnya aku nggak ada feeling ke dia. Salah satu titik balik aku mulai menemukan kualitas calon suami yang aku pengen ada di diri dia adalah waktu dia cerita bahwa dia pernah jadi pelayan di suatu rumah makan di Bandung. Kok bisa? 

Jadi ceritanya waktu itu dia lagi nganterin aku dari kampus (Jl. Ganesa Bandung) menuju ke lokasi sampling tugas akhir aku di daerah Lembang (Desa Sunten Jaya). Di Jl. Setiabudi kita ngelewatin Rumah Makan Daun Pisang. Terus pas lewatin rumah makan itu dia bilang, 

  • 👦: Aku udah pernah bilang belum kalo aku pernah kerja disana (Daun Pisang)?
  • 👧: Belum. Kerja apaan? 
  • 👦: Jadi pelayan. 
  • 👧: Eh? Kok bisa? Kapan? 
  • 👦: Jadi yang punya resto ini tuh temennya Bapak. Terus kalo liburan tengah taun kan restonya suka lebih rame. Beliau tanya, anakmu sibuk apa? Kalo nggak ada kesibukan suruh magang disini aja sambil ngisi waktu kosong. Terus Bapak ngasih tau aku kan, barangkali berminat. Kebetulan waktu itu lagi libur panjang dari semester 2 ke semester 3, jadi aku pikir kenapa nggak dicobain. 

    Oh.. Aku cuma bisa jawab oh aja kayaknya saat itu.. Tapi jadi kepikiran, ni anak daya juangnya lumayan juga. Nggak gengsian, bisa kerja keras, nggak manja. Apa aja dilakuin sepanjang halal. Mungkin, he’ll make a good husband. A responsible one. Hahaha.. Belom tertarik tapi udah ngebayangin dia bakalan jadi suami yang tanggung jawab. 🙈 Ni apaan deh.. 

    Beberapa hari yang lalu, sebelum nulis blog post ini, aku nanya-nanya sama suami seputaran cerita magangnya di Daun Pisang jaman dulu. Ceritanya mau recall kisah masa lalu. Soalnya aku mulai tertarik sama dia salah satunya gara-gara hal ini kan (tapi dia nggak tau kayaknya). 

    • 👧: Loh jadi sebenernya kerja di Daun Pisang tuh disuruh sama Mamah, Mas? Kirain inisiatif sendiri pengen belajar mandiri kerja keras cari pengalaman apa kek. Padahal kan dulu Ayang mulai tertarik sama Mas gara-gara ini.. Ternyata itu cuma imajinasi Ayang doang, Mas? 
    • 👦: Ih bukan gitu.. Mamah sama Bapak cuma ngasih tau ke Mas soal tawaran ini. Tapi yang mutusin buat nyoba kerjaan ini kan Mas. 
    • 👧: Oh.. Palingan cuma mau cari tambahan uang jajan ya motivasinya? *etdah.. Aku make pertanyaan pancingan*
    • 👦: Enggak lah.. Orang duitnya nggak seberapa kok.. Kan Mas cuma magang, bukan pegawai tetap.. Tapi Mas jadi belajar, bahwa ternyata dapetin uang itu nggak gampang. Buat dapetin uang yang mungkin nggak seberapa, kerja keras yang harus dilakuin itu luar biasa. Kerjaannya bener-bener non stop, adaaa aja yang harus dikerjain. Apalagi kalo lagi peak season gitu kan.. 
    • 👧: Ngerjain apa aja emangnya Mas? 
    • 👦: Ya jadi pelayan.. Mulai dari bebersih restonya dulu sebelum buka. Terus ngelayanin tamu: nyambut mereka, ngasih daftar menu, nulis pesenan, nyajiin pesenan, beresin piring kotor di meja, dan bersihin mejanya lagi. Mas harus ngafalin nomor meja, daftar menu, deskripsi menu, gitu-gitu deh.. 
    • 👧: Bahahahahaha
    • 👦: Ih kok ketawa? Seriusan ini Mas nggak ngada-ngada. 
    • 👧: Iya, tauuu.. Pantesan sekarang luwes banget kalo disuruh beberes. Bahahaha.. 

    Iya, yang aku rasain saat ini (setelah nikah) adalah suami aku helpful banget sama kerjaan rumah tangga. Nggak ada ceritanya aku ngerasain bete karena kecapean ngerjain kerjaan rumah tangga sendirian. 

    Cape sama kerjaan rumah tangga sih iya. Berhubung kita memutuskan untuk nggak pake tenaga Asisten Rumah Tangga (ART) maupun pengasuh anak karena satu dan lain hal. Jadi semua kerjaan rumah tangga ya kita kerjain sendiri. Tapi dia selalu nawarin bantuan sama aku. 

    Kadang-kadang bantuannya sekedar pijitin kalo akunya kecapean. Tapi ini selalu berhasil bikin aku senyum-senyum dan tidur pules. Nggak jarang juga dia bantuin ngejemur, angkatin jemuran, ngepel, cuci piring (meskipun suka kena komplain aku untuk urusan satu ini), sampe masak! Untuk urusan masak sih cuma tinggal gongseng-gongseng, semua bahannya udah aku siapin duluan. 

    Saat ini bahkan suami suka bantuin aku mandiin anak bayi kalo aku lagi sibuk ngerjain kerjaan lainnya. Dan anak bayi selalu tampak lebih seneng dimandiin sama ayahnya. Karena kebanyakan main-mainnya.. 😒 Apapun itu, aku ngerasa bersyukur banget punya suami PSI. And sometimes I let him know, too: I am so grateful with my decision to choose you as my husband. 

    I know it’s too personal. But this is my blog, anyway 🙈🙊.. 



    ***


    Dear Mas PSI, 

    In case Mas baca blog post ini, melalui cerita Daun Pisang, yang mau Ayang bilang adalah: Awalnya Ayang tertarik sama Mas karena Ayang pikir Mas pekerja keras. Ayang pikir, kelak Mas bakalan pinter cari uang dan bisa bahagiain anak istri pasti. Ternyata, pekerja keras itu nggak sebatas perkara pinter cari uang, tapi juga kerja kerasnya dipake buat berempati sama kerjaan istri di rumah, iya? Semoga selamanya Mas bakalan kaya Mas yang sekarang. Please don’t change. Unless it is to get better. 

    My First Pregnancy Story #04: Food Cravings

    Tentang food cravings selama kehamilan.. Hmm.. Gini, lokasi kerja aku kan remote area ya, dimana makanan kita dari mulai sarapan, makan siang, sampe makan malem udah disediain sama catering nya perusahaan. Jangan harap ada rumah makan atau mamang-mamang tukang jualan yang lewat. 

    Kalaupun mau keluar mine site, harus bikin exit permit yang ditandatangani KTT (Kepala Teknik Tambang) dulu. Karena urusannya bisa jadi ribet kalo aku ngidam yang aneh-aneh, jadi aku udah janjian dulu sama Dede Bayi: “De, Bunda kerjanya jauh dari Ayah nih.. Jauh kemana-mana juga.. Kalo pengen makanan yang aneh-aneh tunggu pas ada Ayah ya..” gitu. 

    Walaupun udah ditahan-tahan, tapi yang paling sering kepikiran pengen aku makan itu adalah: sushi-nya Sushi Tei yang ada salmon dan lelehan mozzarella cheese di atasnya. Kalo minuman pengennya virgin mojito. Sayangnya, makanan dan minuman yang aku pengen itu nggak baik buat ibu hamil. Soalnya kalo makan daging-dagingan, ayam, dan ikan kan harus yang well done, dan minuman bersoda gitu kan nggak baik ya. 😢 Jadi ucapkan selamat tinggal sama food craving-an yang satu ini. 

    Lebih dari 2/3 masa kehamilan aku habisin di site, soalnya aku baru cuti hamil pas minggu ke-31 kehamilan. Oleh karena itu, yang ngasih aku makanan-makanan yang aku suka (walaupun bukan food craving-an aku) ya udah pasti temen-temen di tempat kerja ya.. 

    Yang paling aku inget pastinya Bu Mini dan suaminya yang sering banget ngasih aku nasi kuning Kobok (Kobok adalah nama daerah), rambutan, tahu isi, dan masih banyak lagi makanan lainnya. Pak Rustam dengan mangga madu dan pisang mas hasil petik dari kebunnya sendiri. Bapak-bapak Prasmanindo Boga Utama (PBU, catering-nya perusahaanku) yang suka bekelin aku buah-buahan, minuman, dessert manis-manis, dan ngambilin makan dengan porsi lebih banyak dari biasanya, juga ngirimin makanan bertubi-tubi di saat aku harus bed rest. Dan pastinya anak buah, yang selalu berbaik hati ngambilin special order aku di mess hall tiap jam makan siang di kala aku nggak bisa makan nasi. 😢 Alhamdulillah meskipun Long Distance Marriage (LDM)-an sama suami, aku nggak kekurangan kasih sayang amat lah 😂..

    Terus suami kebagian repot nyari food craving-an aku nggak? Kebagian, seputaran selera Sunda pula, sementara waktu itu kita tinggalnya di Jakarta. Jadi ya nggak selalu langsung didapetin di saat kepengen. Waktu itu yang aku pengen diantaranya ada cilok, cireng, singkong rebus, rarawuan, surabi, Tahu Sumedang, sama bubur ayam Mang Ara (ini nama tukang bubur yang suka keliling di sekitaran rumah aku di Bandung). Seinget aku sih itu aja ya.. Banyak ya 😅.. Dan Sunda pisan, ya kan?!

    Karena craving-annya selera Sunda, jadi mostly dicarinya pas kita lagi berkunjung ke rumah orang tuaku di Bandung. Lebih tepatnya singgah sih.. Singgah sebelum suami nganterin aku berangkat kerja lagi ke Halmahera lewat Bandara Husein Sastranegara.. Alhamdulillah hampir semuanya kesampean, kecuali bubur ayam Mang Ara soalnya ternyata Mang Ara udah alih profesi saat itu 😢.. 

    Overall, food craving-nya aku nggak terlalu menggebu-gebu dan aku bukan tipikal orang yang harus terpenuhi semua maunya selama hamil. Alhamdulillah, Dede Bayi kooperatif dan pengertian banget.. Terima kasih atas kerja samanya, De! 😘 O dat time.. Kangen banget sama masa-masa kehamilan yang memorable banget tiap harinya..