A Heartwarming Spending

22 Januari 2012. Itu hari pertama aku kerja. 15 Februari 2012 aku udah dapet gaji pertama aja. Dapet gaji pertama itu rasanya girang! 😄 Hal yang pertama kali kepikiran adalah: from today on, I gotta pay my own bills. Udah nggak boleh ngerepotin orang tua lagi. 

Tapi waktu itu aku sama sekali nggak tau gimana caranya mengelola keuangan pribadi. Termasuk tentang zakat profesi, aku sama sekali awam. Almarhum Bapak memang pernah nasihatin aku: “jangan lupa untuk menyisihkan 2,5% harta kamu untuk orang yang membutuhkan”. Waktu itu aku pikir maksudnya Bapak adalah zakat mal. Padahal maksudnya Bapak adalah zakat profesi. 

Cukup lama berselang, di tahun 2013, setelah aku baca buku Habiskan Saja Gajimu!! karya Ahmad Gozali, aku langsung cari tau lebih lanjut tentang zakat profesi. Kalimat dari buku itu yang langsung menggugah aku untuk segera bertindak adalah:

“Aa Gym: …harta yang seharusnya kita bersihkan atau sedekahkan itu bagaimanapun caranya keluar dari harta kita. Ada tiga pilihan agar harta kita bersih. Pertama, dengan cara SUKARELA, seperti membayar zakat dan sedekah. Jika itu tidak dilakukan, bisa jadi harta kita akan bersih dengan cara TERPAKSA, yaitu membiayai sakit, membiayai kerugian dan kemalangan lainnya atau bisa juga dengan cara yang DIPAKSA, misalnya dicuri.”

Satu paragraf itu bikin aku merinding saat itu. Selanjutnya aku langsung cari tau lebih lanjut tentang zakat profesi. Di awal-awal, waktu liat nominal yang harus dikeluarkan tiap bulannya emang rasanya kok lumayan besar ya, kok berat ya mau ngeluarinnya.. Tapi percaya aja, nggak pernah ada orang yang jatuh miskin karena bayar zakat yang hanya 2,5% dari harta kita. 

Trik dari aku adalah, segera setelah terima gaji, langsung tunaikan zakatnya. Jangan menganggap 2,5% itu sebagai pengurangan jumlah gaji kita. Tapi anggap gaji bersih kita adalah jumlah setelah ditunaikan kewajiban 2,5% nya. 

Sejauh ini, kebahagiaan aku setelah bayar zakat itu masih lebih besar dibandingkan kebahagiaan setelah belanja, makan-makan, atau liburan. Ada perasaan lega, perasaan kaya setelah menunaikan kewajiban satu ini. Bukan kaya karena banyak uang, tapi kaya karena udah bisa membantu orang yang membutuhkan. Plus, selalu ada doa yang heartwarming dari amil zakat sehabis kita bayar zakat. Bahagia banget rasanya dapet doa yang tulus dari orang lain.. 

Mudah-mudahan postingan ini nggak dianggap riya ya. Maksud aku hanya untuk sharing, insyaa Allah.. 😊 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s