My First Pregnancy Story #01: Our Prayer

Belakangan ini lagi musim banget status di Facebook bertajuk “All About Your First Born“. Bikin aku jadi kabita juga buat bikin status semacam itu.. 

Tapi supaya aku bisa cerita lebih detail buat kenang-kenangan aku, suami, dan anak bayi kelak, aku ceritanya mau di blog aja. Hihihi.. 

Sebelum nikah, pernah suatu waktu aku memberanikan diri buat nanya ke PSI tentang rencana dia mengenai anak: apakah mau menunda, mau menyegerakan, atau mau pasrah sedapetnya aja. Kenapa aku bilang memberanikan diri? Soalnya selama deket sama PSI, dia keliatan cuek sama anak kecil, bukan tipe-tipe yang gampang dekat dan mendekatkan diri ke anak kecil. Jadi ya harus berani menghadapi kalau-kalau dia jawab ‘mau menunda dalam jangka waktu lama’ 😨. 

Di luar dugaanku, ternyata PSI pengen langsung punya anak kalo udah nikah nanti. Bukan yang buru-buru juga sih, tapi yang jelas nggak mau nunda-nunda. 

Kalo aku sendiri gimana? Aku yang saat itu lagi excited sama karirku, maunya sih menunda dulu punya anak, mungkin sekitar 1 tahunan setelah nikah baru mau mulai bersiap-siap mikirin punya anak, pikirku. 

Long story short, setelah diskusi panjang dan berulang-ulang, kita sepakat bahwa 6 bulan mungkin adalah waktu yang cukup buat kita berdua untuk menikmati masa-masa awal pernikahan, lebih mengenal satu sama lain, dan mengejar impian kita masing-masing, sambil mempersiapkan diri sebelum punya anak. Dengan catatan, nggak ada upaya khusus untuk mencegah kehamilan. 

Jadi jangka waktu 6 bulan itu hanya sebagai batasan untuk menikmati masa-masa awal pernikahan, tanpa aku harus stress dengan pertanyaan ‘kenapa aku belum hamil?’ dari siapapun, termasuk dari diri sendiri. Kalo udah lewat 6 bulan, baru kita bakalan berupaya untuk konsultasi ke obgyn

Kenyataan bahwa aku kerja di Halmahera Utara dengan roster 4 minggu on site dan 2 minggu off site, sedangkan suami aku kerja di Jakarta dengan jadwal kerja Senin sampai Jumat, bikin kita jarang banget ketemu. Soalnya kalau off site aku masih rutin pulang ke rumah orang tuaku di Bandung, untuk nengok sekalian kontrol ke orthodontist. Makin jarang aja ketemunyaaa.. 

Yang bikin aku sedih itu kalo abis solat berjamaah, terus liat suami aku doanya lamaaa. Kalo aku tanya, “doa apa aja sih Mas panjang bener doanya?”, ternyata salah satu doanya memohon dikaruniai keturunan yang baik. Itu udah sedih maksimal deh pokoknya aku. 

Oh iya, ada suatu doa yang selalu kita baca bareng-bareng sehabis solat berjamaah. Ini doanya Nabi Zakaria waktu memohon diberi keturunan yang baik. 

Robbi hab lii milladunka dzurriyyatan thoyyibatan innaka samii’ud-du’aa (Q.S. Ali Imran: 38)

“Ya Allah, anugerahkanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Memperkenankan Doa.”

Itu cerita aku tentang masa-masa sebelum aku hamil, dan doa yang aku dan suami panjatkan untuk memohon diberi keturunan yang baik. Semoga cerita ini bermanfaat buat kamu ya.. 😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s