Tips Konmari Method: what you don’t need, your family doesn’t either

Ngasih barang yang udah nggak kita pake ke orang lain memang ide yang bagus. Tapi jangan sampe kita maksa anggota keluarga kita buat nerima barang lungsuran dari kita cuma gara-gara kita nggak sampai hati buat ngebuang atau donasiin barang-barang tersebut. 

Kalau kita mau ngasih sih boleh, asal nggak pake maksa ya. Ada baiknya sebelum beres-beres kita tanya dulu ke anggota keluarga kita, kira-kira mereka ada barang tertentu yang dibutuhin atau enggak. Kalau ternyata ada barang yang mau kita singkirkan yang kriterianya sesuai sama barang yang dibutuhin anggota keluarga kita, baru deh kita tawarin ke mereka. 

Inget ya, jangan maksa-maksa mereka buat nerima barang lungsuran dari kita. “We need to show consideration for others by helping them avoid the burden of owning more than they need or can enjoy.”

Advertisements

Tips Konmari Method: don’t let your family see

“It’s extremely stressful for parents to see what their children discard.”

Maka dari itulah Marie Kondo merekomendasikan kliennya untuk nggak memperlihatkan ke orang tuanya, apa aja barang yang mau disingkirkan. 

Bayangin aja, kalo barang yang mau disingkirkan itu jumlahnya banyak banget, orang tua pasti bakalan khawatir, ini anak kita emangnya bisa survive sama sisa barang yang cuma sedikit? 

Belum lagi kalo liat barang-barang pemberian dari mereka ada di kategori yang bakalan kita singkirkan. Pasti mereka bakalan nggak rela banget kan..

Makanya sebaiknya jangan biarkan barang-barang yang mau kita singkirkan terlihat sama orang tua atau keluarga kita.. 

My Story of Discarding Things

Mari rehat sejenak dari nulis-nulis teori tentang Konmari Method. Sejujurnya aku pun baru sampe di stage 2: discarding books. Maklum lah ya.. Beberes cuma bisa dilakukan hari Sabtu atau Minggu, berhubung kita nggak punya nanny maupun ART. Jadi harus atur-atur strategi untuk ngasuh anak bayi, masak, beberes, santai-santai, dan jalan-jalan. πŸ™ˆ

Aku ceritain dulu ya tentang beberes ala Konmari Method yang udah kita alamin sampe saat ini.. 
Stage 1: discarding clothes

Sayangnya kita sama sekali nggak mendokumentasikan hasil discarding clothes. Soalnya waktu itu kita terlalu bersemangat untuk menyingkirkan baju yang udah nggak kepake. Pengennya lemari bisa lowong sesegera mungkin dan nggak ada lagi baju bekas yang berserakan di rumah. 

Jumlah baju yang udah nggak kita pake ternyata lumayan banyak, sekitar 3 keranjang cucian ukuran besar. Itu udah termasuk baju suami, baju aku, dan baju anak bayi. Honestly, paling berat adalah waktu discarding dan donasiin bajunya anak bayi. Rasanya sedih banget. Banyak memorinya soalnya.. Tapi berhubung bajunya emang udah nggak dipake lagi dan kita butuh space untuk hal lainnya, jadi ya mau nggak mau memang harus direlakan. Toh bajunya juga bakalan lebih bermanfaat buat orang lain daripada sekedar disimpen di lemari kita, insyaa Allah.. 😊

Sempet kepikiran untuk bikin acara garage sale di rumah untuk jualin baju bekas kita. Tapi rasanya kok ribet banget ya, belum tentu banyak yang dateng juga. 

Sempet kepikiran juga untuk jual baju bekas kita di garage sale online di forum yang aku ikutin. Tapi ini pun kayaknya ribet karena kita harus fotoin dan ngukurin bajunya satu per satu. 

Akhirnya kita putuskan buat mendonasikan baju-baju bekas kita ke orang-orang yang membutuhkan. Alhamdulillah prosesnya jauh lebih cepet, dan rasanya bahagia banget ngeliat ekspresi mereka waktu dapet lungsuran baju dari kita. Insyaa Allah kita seneng, mereka seneng, dan baju-baju kita juga seneng karena udah nemu pemilik barunya. 😁😁😁
Stage 2: discarding books

Waktu discarding books, kita juga nggak banyak mendokumentasikan prosesnya. Nggak tau ya, kayaknya kalo lagi beberes tuh fokus banget aja gitu sama kegiatan beberes. Dan emang harus sigap banget sih soalnya kita cuma punya waktu dikit banget buat beberes, which is cuma selama anak bayi tidur aja. πŸ˜‚

Jumlah buku dan majalah yang berhasil kita singkirkan nggak terlalu banyak, cuma 1 kantong bed cover ukuran king size. Kalo jumlah satuannya sih lebih dari 70 buku. Di antaranya ada buku favorit aku juga, yaitu The Lord of The Rings. 😭 Harus aku relakan karena emang nggak bakalan aku baca ulang. 

Karena buku ini lebih mudah buat dijual (nggak perlu ngukurin satu per satu), akhirnya aku putuskan buat jual di garage sale online. Alhamdulillah aku masuk ke forum yang doyan sama buku, jadinya buku yang aku jual di garage sale online ini laku keras. Tapi nggak 100% terjual sih.. Dan ada juga buku-buku yang udah sobek dikit atau yang kita dapetin secara free, jadi kalo yang kaya gini otomatis rezekinya buat pemulung. 

Tujuan aku ngejual buku-buku bekasku awalnya karena iseng aja, supaya dapet upah beberes gitu πŸ™ŠπŸ€‘. Untuk kondisi buku-buku kita yang cukup terawat, harga jual yang kita kasih juga termasuk murah banget! 

Ternyata, sending our books to their new owner itu menimbulkan rasa bahagia juga. Bahagia karena dapet uang πŸ€‘. Bahagia karena punya lebih banyak space di rumah. Bahagia karena bisa menyalurkan hobi wrapping gifts. Dan bahagia karena bisa mempertemukan buku-buku kita sama pemilik barunya juga! Insyaa Allah buku-buku ini bakalan lebih bermanfaat di tangan pemilik barunya daripada sekedar numpuk di book shelf kita..

Itu dia sedikit cerita dari aku dan keluarga yang beberesnya masih dalam proses, alias belum kelar-kelar. πŸ˜… Yang aku sadari sampai saat ini, ternyata letting go of things emang nggak mudah. Tapi rasa bahagia itu bakalan muncul kemudian kok. Barang yang kita miliki nggak seharusnya jadi beban yang bikin kita terus-terusan ngerasa harus nyimpen hanya karena rasa nggak tega. Dengan mempertemukan barang kita sama pemilik barunya yang bener-bener butuh dan suka, kita udah bikin diri kita sendiri bahagia, orang lain bahagia, dan barang kita juga bahagia. Yaaay! 

Tips Konmari Method: one category at a time

Salah satu hal yang penting dalam proses menyingkirkan barang adalah: mengumpulkan seluruh barang dalam satu kategori yang sama di satu tempat. Iya. Seluuuruh barang tanpa kecuali. Supaya kita paham berapa banyak barang yang kita punya. 

Dengan meletakkan seluruh barang di satu tempat, kita juga bisa bandingin beberapa barang yang serupa, sehingga memudahkan kita dalam memutuskan apakah kita tetep pengen simpen barang-barang tersebut atau enggak. 

Marie Kondo juga punya alasan bagus lainnya, kenapa harus naro seluuuruh barang dengan kategori yang sama di satu tempat dan disebarkan di lantai sebelum memulai proses menyingkirkan barang. Dia bilang, barang yang disimpen di luar pandangan (misalnya ditumpuk di dalam lemari) itu sifatnya dorman. Jadinya bakalan lebih susah untuk menentukan apakah barang itu memercikkan kesenangan atau enggak. Sebaliknya, dengan menampakkan barang itu di bawah cahaya dan memperhatikan detail barang itu, bakalan jauh lebih mudah untuk menilai apakah barang tersebut menyentuh hati kita.

Menangani satu kategori barang dalam satu waktu juga bisa mempercepat proses beres-beres. Jadi pastikan untuk mengumpulkan seluuuruh barang dengan kategori yang sama sebelum kamu memulai proses menyingkirkan barang. Jangan sampai ada yang terlewat! 

Tips Konmari Method: starting with mementos spells certain failure

Selain nilai fisiknya, ada tiga faktor yang menambah nilai pada suatu barang: fungsi, informasi, dan ikatan emosional. Ketika elemen kelangkaan ditambahkan, maka kesulitan dalam memilih barang yang akan disingkirkan jadi meningkat. 

  1. Functional value: orang-orang sulit menyingkirkan barang yang masih bisa mereka gunakan.
  2. Informational value: orang-orang sulit menyingkirkan barang yang memiliki informasi berguna. 
  3. Emotional value: orang-orang sulit menyingkirkan barang yang memiliki ikatan sentimental. 

Ketika benda dengan tiga faktor di atas sulit didapatkan atau sulit digantikan (rarity), maka akan lebih sulit lagi untuk menyingkirkan barang tersebut. 

Oleh karena itu, proses menentukan barang yang ingin kita simpan atau singkirkan akan berjalan lebih lancar ketika kita memulai dengan barang yang lebih mudah untuk diputuskan. Secara bertahap, kita lanjutkan dengan kategori barang yang lebih sulit diputuskan, karena seiring waktu kemampuan pengambilan keputusan kita akan semakin terasah. 

Dalam hal ini, pakaian adalah kategori yang paling mudah sehingga bisa ditaruh di urutan pertama. Sementara untuk foto dan surat, selain memiliki nilai sentimental yang tinggi, juga tidak ada yang serupa (langka), sehingga harus ditaruh di urutan akhir. 

Maka urutan beres-beres yang disarankan oleh Marie Kondo adalah:

“The best sequence is this: clothes first, then books, papers, komono (miscelany), and lastly, mementos.”

Urutan seperti di atas terbukti paling efisien untuk mempermudah tugas selanjutnya, yaitu menentukan akan menyimpan barang dimana. 

Kriteria Memilih Barang Ala Konmari Method: does it spark joy?Β 

Waktu menyingkirkan barang dari rumah kamu, standar apa yang kamu pakai? 

Menurut Marie Kondo, ada beberapa pola umum yang menjadi alasan kita dalam menyingkirkan barang. Pertama, di saat barang yang kita punya udah nggak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Misalnya barangnya rusak dan udah nggak bisa dibenerin atau ada bagian yang hancur. Kedua, di saat barang yang kita punya udah out of date. Misalnya pakaian yang udah nggak sesuai dengan fashion trend saat ini. 

Kalo ada alasan yang jelas kaya gitu sih gampang aja kali ya buat nyingkirin barang. Tapi kalo nggak ada alasan yang memaksa, sulit banget rasanya buat nyingkirin barang kita. 

Ada beberapa tolak ukur yang digunakan para expert dalam menyingkirkan barang. Tapi kalau kata Marie Kondo, jangan fokuskan pikiran kita pada apa yang akan kita singkirkan. Sebaiknya, pilih aja barang yang ingin kita simpan. Gitu katanya. 

“However, the moment you start focusing on how to choose what to throw away, you have actually veered significantly of course.”

“…Because we should be choosing what we want to keep, not what we want to get rid of.”

Seringnya memang kita terlalu fokus mikirin barang mana yang mau kita singkirkan, sampe-sampe kita lupa untuk menghargai barang yang bener-bener kita suka, yang pengen kita simpen. 

Maka cara terbaik untuk milih barang mana yang ingin kita simpen dan barang mana yang ingin kita singkirkan adalah dengan memegang setiap barang dan tanyakan ke diri sendiri: apakah barang ini memercikkan kesenangan? Kalau iya, berarti barangnya layak untuk disimpen. Tapi kalau enggak, berarti ya memang harus disingkirkan. Sesimpel itu.

“…the best way to choose what to keep and what to throw away is to take each item in one’s hand and ask: “Does this spark joy?” If it does, keep it. If not, dispose of it.”

Sama halnya dengan aku, kamu mungkin bakalan bertanya-tanya, kriteria semacam itu emangnya efektif? Katanya sih saat kita memegang suatu barang, tubuh kita bakalan bereaksi. Responnya terhadap setiap barang bakalan beda-beda. Dicoba dulu aja kali ya.. 

Penggunaan kriteria ini oleh Marie Kondo bukannya tanpa alasan. Menurut dia, inti dari beres-beres adalah supaya ruangan dan barang-barang yang ada di dalamnya bisa membawa kebahagiaan buat yang beres-beres. Makanya, kriteria terbaik dalam memilih barang yang ingin kita simpan dan yang ingin kita singkirkan tentunya adalah: apakah barang itu bisa membawa kebahagiaan dan kesenangan untuk diri sendiri? Gitu.. 

“Keep only those things that speak to your heart. Then take the plunge and discard all the rest. By doing this, you can reset your life and embark on a new lifestyle.” 


Tidying is Just A Tool, Not The Final Destination

“…When your room is clean and uncluttered, you have no choice but to examine your inner state. You can see any issues you have been avoiding and are forced to deal with them. From the moment you start tidying, you will be compelled to reset your life. As a result, your life will start to change. That’s why the task of putting your house in order should be done quickly. It allows you to confront the issues that are really important. Tidying is just a tool, not the final destination. The true goal should be to establish the lifestyle you want most once your house has been put in order.” (Marie Kondo, in The Life Changing Magic of Tidying Up)

Sebelum Memulai Konmari Method, Visualisasikan Dulu Tujuan Kamu!Β 

Menentukan tujuan bikin kita makin semangat dalam ngerjain sesuatu. Setuju nggak? 

Di saat aku memutuskan buat baca buku The Life Changing Magic of Tidying Up, pastinya aku udah punya keinginan untuk beres-beres. Tujuannya supaya rumah aku bisa rapih, enak diliat, enak ditempatin, dan nyaman. Tapi.. Yakin tujuan akhir aku cuma sampe di situ? Terlalu mainstream dan klise nggak sih hal yang aku sebutin tadi? 

Kalo gitu aku bikin lebih detail ya.. Ini visualisasi dari tujuan yang pengen aku capai:

Kegiatan bersihin rumah sehari-hari jadi lebih gampang dan cepet karena nggak ada barang berserakan yang ngehalangin jalan dan jadi sarang debu. Aku jadi lebih fokus dan punya waktu main lebih lama bareng anakku tanpa mikirin soal bersih-bersih atau beres-beres rumah. Aku bisa explore lebih banyak resep masakan baru tanpa ragu karena semua kitchen utensils bener-bener cuma sejangkauan tangan, nggak perlu dicari sampe ngubek-ngubek sana-sini. Belajar baking would be on my list, for sureRumahku jadi nyaman banget dan bikin anak, suami, dan aku sendiri betah berlama-lama di rumah. Nggak perlu keseringan mikirin jalan-jalan ke mal, nginep di hotel, atau makan di restoran. Dan aku.. Aku punya lebih banyak waktu, lebih banyak space di kepala dan di rumah untuk ngelakuin hal-hal baru: watercoloring, blogging, cooking, baking, dan lebih fokus ngurusin bisnis yang lagi aku jalani saat ini. Nggak ada lagi cerita tentang beres-beres besar di akhir pekan pokoknya. Weekend hanya untuk menikmati waktu kebersamaan sama keluarga. 

Kalo kamu, kaya apa sih visualisasi tujuan yang pengen kamu capai? 

Tips Konmari Method: make tidying a special event, not a daily chore

“Tidying is a special event. Don’t do it every day.”

Pertama kali baca kalimat itu, aku sih skeptis ya. Masa iya dengan Konmari Method, kita cuma perlu beres-beres sekali doang untuk jangka waktu yang sangat lama. 

Jadi kata Marie Kondo, beres-beres itu ada dua tipe. Yang pertama daily tidying, contohnya kita pake suatu barang terus setelah selesai pake kita balikin lagi ke tempatnya. Kalo ini sih pastinya dikerjain tiap hari ya sepanjang kita perlu pake baju, perlu baca, perlu masak, dan sebagainya. 

Nah yang kedua namanya special event tidying. Kalo yang special event tidying itu ya yang udah kita bahas dari sebelum-sebelumnya.. Yang intinya adalah discarding and storing things

Jadi kalo beres-beresnya bener-bener saklek ngikutin Konmari Method, kamu nggak perlu repot-repot ngulang kegiatan beres-beres lagi dalam jangka waktu yang lama. Kamu jadi bisa punya lebih banyak waktu buat menikmati hal yang ada di sekeliling kamu, bisa menyalurkan hobi, bisa quality time sama keluarga, duuuh bahagia banget ya.. 

“…Although not large, the space I live in is graced only with those things that speak to my heart. My lifestyle brings me joy.” ⇦⇦⇦ ini life goal banget! 

Mulai dari sini, sedikit-sedikit aku ngerti arahnya kenapa judul bukunya Marie Kondo adalah The Life Changing Magic of Tidying Up. Karena kalo liat dari gambaran umumnya, dengan beres-beres ala Konmari Method, kehidupan kita bisa berubah! 

Tips Konmari Method: tidying must begin with discarding

Pernah nggak kamu rapihin barang-barang yang ada di rumah kamu, sampe sengaja beli banyak banget kotak penyimpanan barang (storage box), tapi nggak lama setelah selesai rapihin barang, semua storage box yang kamu punya udah full aja saking banyaknya barang di rumah kamu. Akhirnya kamu ngerasa harus beli lebih banyak storage box lagi. Ini kasus aku banget di awal nempatin rumah baru. Dan lagi-lagi, Marie Kondo got the point

​Marie Kondo bilang, “Putting things away creates the illusion that the clutter problem has been solved.” 

Sekedar mengatur penyimpanan barang yang kita punya itu nggak menyelesaikan masalah utama dari rumah yang berantakan. Sesaat setelah rapih-rapih dan ngatur tata letak barang emang bikin rumah kita rapih untuk sementara waktu. Tapi nggak lama setelah itu pasti bakalan berantakan lagi. 

Makanya kalo kata Marie Kondo, beres-beres itu harus diawali dengan menyingkirkan barang-barang yang nggak penting. Ini bagus banget buat berlatih mengendalikan diri kalo kata aku sih. Jadi barang-barang yang ada di rumah kita tuh bener-bener cuma barang yang kita butuhkan atau yang kita suka. 

Marie Kondo bilang, orang yang nggak bisa selalu rapi itu terbagi ke dalam 3 tipe personality:

  1. Can’t-throw-it-away type
  2. Can’t-put-it-back type
  3. First-two-combined type alias can’t-throw-it-away, can’t-put-it-back type

Kebanyakan (90%) masuk ke kategori nomor 3. Can’t-throw-it-away itu masalah besar aku banget. Suka galau gitu kalo mau nyingkirin barang yang aku punya. Entah mau didonasikan atau dibuang, rasanya berat aja gitu buat lepas sama barang punyaku. Bahayanya dari orang tipe kaya gini adalah mereka bakalan punya banyak banget barang dan tempat penyimpanan yang ada nggak bakalan cukup saking banyaknya barang. Kabar baiknya, sekarang sih aku udah lebih tegaan. Soalnya Konmari Method tuh metode beberes yang menuntut kita buat afgan banget alias sadis. πŸ˜‚

Back to topic. Apapun tipe personality nya, aturan dari Marie Kondo tetep sama: “tidying must begin with discarding”.

Marie Kondo bilang, “Effective tidying involves only two essential actions: discarding and deciding where to store things. Of the two, discarding must come first.” Itu dia prinsip dasarnya. Mantep banget ya..

Untuk dapetin hasil terbaik dalam beres-beres, Marie Kondo menekankan untuk ngikutin aturannya: “Tidy in the right order.”

Secara cuma ada dua tugas utama yang harus dikerjain: menyingkirkan barang yang nggak diperlukan (discarding) dan memutuskan mau nyimpen barang yang diperlukan dimana (deciding where to keep things). Cuma dua tugas utama itu aja, dan discarding HARUS dikerjain lebih dulu. Pastiin untuk ngerjain tugas pertama dulu sampe bener-bener selesai sebelum lanjut ke tugas yang kedua. 

“Do not even think of putting your things away until you have finished the process of discarding.” 

Kalo nggak ngikutin urutan tugas di atas, bisa-bisa kerjaan beberesnya nggak maju-maju. Kalau di sela-sela lagi discarding malah mikirin mau naro barang dimana ya nanti, yang ada kerjaannya jadi lebih lama selesainya karena harus berhenti buat mikir dulu. 

Intinya, rahasia sukses dari beres-beres adalah dilakukan dalam satu tembakan, secepat mungkin, dilakukan secara menyeluruh, dan dimulai dengan menyingkirkan barang yang nggak diperlukan. 

Gimana? Masih excited kan ya baca-baca soal Konmari Method? Tunggu postingan selanjutnya yaaa.. Semoga kamu makin semangat buat beres-beres setelah baca postingan ini. Aku nulisnya dikit-dikit supaya cepet dan nggak bikin anak bayi bete.. Dan karena aku menghargai channel capacity juga.. Hehehe.. Keep reading ya!